Jumat, 27 April 2012

Renungan dari Lukas 6: 39-42:

Mata adalah salah satu anggota tubuh yang amat penting. Dengan mata kita melihat dan kemudian merekam banyak hal di dalam pikiran kita. Kita dapat mlihat segala ciptaan yang agung dan indah yang telah Allah anugerahkan bagi kita.
Namun dengan mata pula kita dapat tersesat. Karena itu, Yesus mengingatkan,"Jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua".
Dalam kehidupan masyarakat ada banyak kebutaan, bukan karena mata rusak tapi karena orang tidak punya kesempatan utk belajar.  Misalnya:  buta aksara/buta warna. Ada juga jenis kebutaan yang menyesatkan,  yaitu buta hati;  hati tertutup dan jahat, yang bersumber dari mata. Jika kita menghakimi sesama hanya karena mendengar "kata orang" sedangkan mata kita tidak melihat sendiri perbuatan jelek/ salah itu, maka kita sendiri yang buta hati. Hati kita dibutakan dengan kesombongan kita, merasa diri lebih baik, lebih benar dan lebih suci daripada orang lain, sehingga balok dimata kita tidak nampak. Kita munafik!  Yesus berkata, "Sekiranya kamu buta,  kamu tidak berdosa,  tetapi karena kamu berkata:  kami melihat, maka tetaplah dosamu" (Yoh9:41). Kita diingatkan, pertama, bhw setiap perbuatan yang kita lakukan dengan sadar, tahu dan mau adalah dosa. Kedua, sebelum menegur/mengkritik orang lain hendaknya kita membersihkn hati lebih dulu. Kita koreksi diri!
Dalam hidup di lingkungan paroki, sering kita punya niat baik untuk membantu sesama agar menjadi lebih baik. Kita ingin menasehati/menegur sesama, namun terkadang hasilnya berupa penolakan. Mengapa? Karena kita cenderung menegur atau menasehati dengan sikap mengadili/ menggurui seolah kita ini sudah hebat, tetapi tak ada kerendahan hati dan cinta. Akibatnya orang lain ter- singgung atau terluka.
Orang buta tidak dapat menuntun orang buta karena keduanya akan jatuh kedalam lubang. Karena itu kita perlu membersihkan mata hati kita sebelum mengeluarkan selumbar dari mata sesama. Mari kita terus belajar untuk hidup tanpa kemunafikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar